History

 


Video: 25 Years - Journey of KKIA. This video was created for KKIA Silver Anniversary Celebration, October 2016. Courtesy of Freddy Simanjuntak.

Bahasa Indonesia

1988: Komunitas kecil umat Katolik Indonesia di Auckland dimulai dari beberapa pelajar Indonesia yang menimba ilmu di sini.  Mereka adalah Liana Buntara, Gunari Murti, Anton Budiharto, Johanes Suwantika, Wenny Suhana, dan Hendrata Choeng. Mereka ingin mempunyai kesempatan untuk berkumpul dan berdoa bersama menurut ajaran Gereja Katolik. Mereka menggunakan aula Gereja St. Andrews di Symond Street, Auckland, sebagai tempat pertemuan dan Perayaan Ekaristi. Kegiatan diadakan sebulan sekali. Pembimbing pertama pertemuan dan misa iadalah P. Bill Burt SVD. Para pelajar ini juga mengajak beberapa keluarga Indonesia yang berdiam di Auckland. 

1989: Dengan makin bertambahnya anggota dan kegiatan, tempat pertemuan dipindahkan ke Newmans Hall, Waterloo Quadrant yang dikoordinir oleh Johanes Suwantika yang juga adalah chaplain dari universitas Auckland.

1991: Tempat Perayaan Ekaristi dan pertemuan kelompok ini pindah ke gereja St. Benedict's, Newton. P. Thomas Aquinas OP adalah imam pembimbing karena saat itu beliau sedang bertugas di gereja St. Benedict's. Kelompok ini mulai menata diri dan membentuk sebuah organisasi yang diberi nama: Masyarakat Katolik Indonesia Auckland atau disingkat MKIA. Ketua pertama MKIA dijabat oleh Johanes Suwantika dan diteruskan oleh Raymond Widjaja. Maka di tahun 1991 inilah yang dipilih sebagai tahun kelahiran KKIA yang kita kenal sekarang

1995: MKIA berganti nama menjadi Komunitas Katolik Indonesia - Auckland atau disingkat KKIA. Ketua KKIA yang pertama adalah Satyawan Pranjoto dan Ketua Dewan Penasehat adalah Joseph Ang. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah misa, doa rosario, dan pendalaman iman, dibimbing oleh P. Tim Costello. Mereka juga mengadakan kegiatan retret atau rekoleksi dengan mendatangkan pendamping retret dari Indonesia. 

2000: Uskup Auckland menugaskan P. Chris Laughnan OP Yang sedang bertugas di gereja St. Benedict's untuk melayani KKIA. Terkadang beliau dibantu oleh P. Ruben Elargo dari Filipina karena P. Ruben bisa berbahasa Indonesia. Selain kegiatan rutin seperti misa sebulan sekali, doa rosario/ senakel, pendalaman iman/ persekutuan doa, dan pendalaman kitab suci, KKIA juga mengadakan kegiatan retret/ rekoleksi untuk umum dan Mudika, jalan salib pada masa Prapaskah, perayaan peringatan hari kemerdekaan RI, perayaan Natal/ Paskah KKIA kadang bekerjasama dengan gereja Kristen Indonesia lainnya di Auckland. 

2003: 23 September 2003, Uskup Patrick Dunn diundang oleh KKIA untuk memimpin misa kudus dan mengikuti hiburan dalam acara misa peringatan kemerdekaan RI. Bapak Uskup sangat terkesan dengan jumlah umat dan aktivitas KKIA, sehingga beliau menyarankan untuk membentuk paroki etnis (chaplaincy) KKIA. Namun karena keterbatasan KKIA pada saat itu, Bapak Uskup menyarankan agar KKIA bisa meminta bantuan dari biara Capuchin, Holy Cross, Henderson, untuk mendatangkan imam dari Indonesia. 

2005: April 2005, Uskup Patrick Dunn secara resmi menunjuk P. Fidelis Mendrofa OFM Cap sebagai Chaplain dari KKIA. Dengan demikian mulai saat itu KKIA diakui secara resmi sebagai sebuah komunitas paroki etnis (ethnic chaplaincy) di dalam Keuskupan Auckland. 

2013: 19 April 2013, P. Redemptus Jawa CSsR ditunjuk menjadi Chaplain KKIA

2014: Dalam surat tertanggal 20 Maret 2014, Uskup Patrick Dunn menegaskan kembali bahwa KKIA telah resmi diakui sebagai paroki etnis. Maka KKIA juga harus mengikuti pedoman bagi seluruh paroki etnis di Keuskupan Auckland.

2015: 22 February 2015, struktur organisasi KKIA berubah mengikuti pedoman dari keuskupan. KKIA mempunyai kepala paroki (chaplain), Dewan Pastoral, Dewan Keuangan, Ketua Wilayah, dan Seksi-seksi. 4 Oktober dipilih sebagai hari ulang tahun KKIA, bertepatan dengan pesta Santo Fransiskus Asisi sebagai santo pelindung KKIA. 

2016: Perayaan Perak KKIA diselenggarakan di Gereja St. Joseph, Takapuna, diikuti dengan resepsi di hall. Misa dipimpin oleh Uskup Patrick Dunn dan 9 pastor lainnya, diikuti oleh lebih dari 400 umat Katolik Indonesia di Auckland. 

2018: 25 March 2018, P. Yohanes Berkhmans Boli CSsR ditunjuk sebagai Chaplain KKIA.

2020: 26 January 2020, P. Alfonsus Roynaldo Noeng CSsR ditunjuk sebagai Chaplain KKIA sampai sekarang.

English

1988: The small community was started by several Indonesian students that lived in Auckland. They are Liana Buntara, Gunadi Murti, Anton Budiharto, Johanes Suwantika, Wenny Suhana, and Hendrata Choeng. They would like to have a chance to gather and pray as Catholic Community. At that time they utilised St. Andrews Presbyterian Church Hall at Symond Street to gather and to have monthly mass. The first mentor and priest was Fr. Bill Burt SVD. Some Indonesian families started to follow this small gathering.

1989: The community got bigger and the old place was too small, so they moved to Newmans Hall, Waterloo Quadrant as the new gathering and mass place.

1991: They moved again to St. Benedict’s Church, Newton, and at that time, they were mentored by Fr. Thomas Aquinas OP as he was one of the priests at St. Benedict’s Parish. This small community finally decided to officially named the organization: Masyarakat Katolik Indonesia Auckland (MKIA) (Translation: Indonesian Catholic Society of Auckland), with the first chief: Johanes Suwantika, followed by Raymond Widjaja. Therefore, 1991 was chosen as the birth year of KKIA.

1995: MKIA transformed its name into Komunitas Katolik Indonesia Auckland (KKIA). The first chief of KKIA was Satyawan Pranjoto with Joseph Ang as the advisor. There were more activities in KKIA, such as mass, Rosary Prayer, etc. mentored by Fr. Tim Costello. Occasionally they held retreat or recollection and invited Indonesian priests.

2000: The Bishop of Auckland appointed Fr. Chris Laughnan OP to serve KKIA. He was assisted by Fr. Ruben Elargo from the Philippines because Fr. Ruben can speak Bahasa Indonesia. During these periods more activities were added such as Station of the Cross during Lenten Season, Indonesian Independence Celebration, Easter and Christmas Celebration. KKIA also started to cooperate with other organisations and with other Indonesian Christian Churches in creating events.

2003: 23 September 2003, Bishop Patrick Dunn was the main celebrant for Indonesian Independence Day Celebration Mass at St. Benedict’s Church. He was very impressed on the amount of KKIA members. He then suggested on establishing KKIA chaplaincy. Since we had no Indonesian priest, the Bishop recommended KKIA to ask for help from Holy Cross Parish Henderson to invite a priest from Indonesia.

2005: In April 2005, Bishop Patrick Dunn officially appointed Fr. Fidelis Mendrofa OFM Cap as the Chaplain of KKIA. Therefore at that moment KKIA was legitimately acknowledged as an Ethnic Chaplaincy in Auckland Diocese.

2013: 19 April 2013, Fr. Redemptus Jawa CSsR was appointed as Chaplain of KKIA.

2014: In his letter dated March 20, 2014, Bishop Patrick Dunn confirmed that KKIA was an Ethnic Chaplaincy in Auckland Diocese and therefore it must follow the guidance from Auckland Diocese for all Ethnic Chaplaincies.

2015: 22 February 2015, KKIA organisational structure was re-established to follow the Auckland Diocese’s guidance. There are Chaplain, Pastoral Council, Finance Council, Head of Areas, and several Ministries. October 4 was chosen as KKIA’s birthday in accordance with the celebration of St. Francis of Assisi as the patron of KKIA.

2016: Silver Anniversary of KKIA was celebrated at St. Joseph’s Church Takapuna, followed by a reception at the school hall. The mass was celebrated by Bishop Patrick Dunn and 9 other priests and was attended by more than 400 Indonesian Catholics.

2018: 25 March 2018, Fr. Yohanes Berkhmans Boli CSsR was appointed as Chaplain of KKIA.

2020: 26 January 2020, Fr. Alfonsus Roynaldo Noeng CSsR was appointed as Chaplain of KKIA until present.

Popular posts from this blog

Sambutan Chaplain KKIA

Selamat Datang di Situs Web Baru KKIA

Kegiatan KKIA Oktober 2020