Buletin KKIA Februari 2026
Bersama Yesus di Padang Gurun
Memasuki Minggu pertama Masa Pra-Paskah, kita diajak oleh penginjil Matius untuk berjalan bersama Yesus melintasi kerasnya padang gurun. Padang gurun bukan sekadar hamparan pasir, melainkan lambang ruang batin manusia: tempat sunyi, pergulatan, dan perjumpaan dengan Tuhan. Di sana Yesus mengalami lapar, kelemahan, dan pencobaan. Ia sungguh masuk dalam pengalaman manusiawi kita.
Di padang gurun itu Yesus menghadapi tiga godaan. Pertama, mengubah batu menjadi roti: godaan menjadikan kebutuhan materi sebagai pusat hidup. Kedua, keinginan akan pembuktian dan sensasi: mencobai Tuhan agar bertindak sesuai kehendak kita. Ketiga, tawaran kekuasaan dan kemuliaan tanpa salib: keinginan berhasil tanpa proses dan dihormati tanpa pengorbanan. Menghadapi semuanya itu, Yesus memilih bersandar hanya kepada Allah. Ia menolak jalan pintas dan tetap setia.
Dalam perjalanan hidup, kita pun memiliki padang gurun masing-masing. Ada yang mengalaminya dalam bentuk tekanan ekonomi, relasi yang retak, kekecewaan dalam keluarga, kelelahan dalam pelayanan, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan. Masa Pra-Paskah mengajak kita untuk tidak lari dari padang gurun itu, melainkan berani memasukinya bersama Yesus. Karenanya kita diajak untuk melihat dengan jujur: di mana kelemahan kita? Apa godaan yang paling sering menjatuhkan kita? Apa yang perlu kita ubah agar hidup kita semakin selaras dengan kehendak Tuhan?
Padang gurun memang keras. Tetapi padang gurun juga menjadi tempat kemenangan. Dari sanalah Yesus keluar dengan kekuatan baru untuk memulai karya-Nya. Demikian pula kita. Jika setia menjalani Masa Pra-Paskah dengan sungguh-sungguh, kita akan sampai pada Paskah dengan hati yang lebih bersih, lebih kuat, dan lebih siap untuk bangkit bersama Kristus. Selamat memasuki Masa Pra Paskah, Tuhan memberkati.
Romo Roy Noeng, CSsR
Tahun Yubileum Santo Fransiskus dari Assisi
Salam Prapaskah,
Sambil menikmati suasana Prapaskah dalam doa, puasa, pantang dan ulah kemurahan hati, marilah kita juga mengingat dan berpartisipasi dalam peristiwa besar dalam Gereja kita. Peristiwa itu adalah Tahun Yubileum Santo Fransiskus Assisi 2026 atau Tahun Paskah Fransiskus. Tahun Yubileum ini ditetapkan oleh Paus Leo XIV sejak 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027. Di dalamnya kita merayakan delapan ratus tahun wafatnya Santo Fransiskus Assisi. Dalam sejarah Gereja, Santo Fransiskus pada 800 tahun silam tampil sebagai terang di tengah zaman yang ditandai oleh konflik, kemerosotan moral, dan semangat religius yang keliru. Dengan memilih hidup miskin dan rendah hati, ia menjadi seorang alter Christus yang menghadirkan Injil secara nyata, seraya menegaskan iman Gereja bahwa “tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang diberikan kepada manusia” selain Yesus Kristus (Kis 4:12).
Tahun Yubileum ini dimaksudkan sebagai kelanjutan dari perjalanan rohani yang buah-buah rahmatnya masih hidup dan berdaya guna. Gereja kembali menegaskan panggilan umat beriman untuk menjadi “peziarah harapan yang tidak mengecewakan” (Rm 5:5), sekaligus mengajak mereka bertumbuh dalam kekudusan, sukacita Injili, dan pembaruan hidup Kristiani.
Yubileum ini ditetapkan dengan Dekret yang dikeluarkan oleh badan Penitensiari Takhta Suci. Dekret menegaskan bahwa situasi dunia masa kini tidak jauh berbeda dari zaman Santo Fransiskus. Ketika kasih Kristiani melemah, kepedulian memudar, dan perdamaian terasa semakin rapuh, teladan Sang Miskin dari Assisi dihadirkan kembali sebagai panggilan untuk membentuk diri seturut Kristus dan menjadi pembawa damai, sebagaimana Sabda Tuhan: “Berbahagialah para pembawa damai” (lih. Mat 5:9).
Selama Tahun Yubileum itu umat beriman dapat memperoleh rahmat indulgensi melalui sakramen rekonsiliasi, Komuni Kudus, dan doa untuk intensi Bapa Suci. Umat beriman diundang untuk menjadikan Fransiskus sebagai contoh dalam mengikuti Kristus, yaitu teladan kesederhanaan, kerendahan hati, persaudaraan dan damai. Sebagaimana ditunjukkan oleh Fransiskus, kita berusaha menjadikan Kristus hidup dalam diri kita. Yubileum juga mengajak kita untuk memberi perhatian khusus kepada para lansia, orang sakit, mereka yang merawatnya, dan semua orang yang karena alasan berat tidak dapat meninggalkan rumah.
Romo Daniel Sitanggang, OFMCap
Comments
Post a Comment
Silakan berikan komentar