Buletin KKIA April 2026
Kasih yang Mengubah
Bacaan pertama pada Minggu Biasa Keempat Masa Paskah membawa kita kembali ke peristiwa Pentekosta, saat Roh Kudus dicurahkan atas para rasul. Pada hari itu, Petrus bangkit dan dengan penuh keyakinan menyadarkan orang banyak bahwa peristiwa penyaliban Yesus yang terjadi belum lama sebelumnya merupakan kenyataan yang melibatkan mereka sendiri. Sabda itu menembus hati mereka sehingga mereka bertanya, “Apa yang harus kami perbuat?” Dan Petrus menjawab dengan tegas: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu.”
Di sini kita melihat sesuatu yang tampak paradoks, yaitu bahwa keselamatan justru lahir dari dosa terbesar manusia. Penyaliban Yesus yang merupakan sebuah tindakan paling kejam justru dipakai Allah sebagai jalan keselamatan. Apa yang dimaksudkan manusia sebagai kejahatan, diubah Allah menjadi rahmat yang menyelamatkan. Inilah kasih karunia yang melampaui logika manusia.
Pengalaman ini mengajak kita untuk tidak terjebak dalam keputusasaan atas dosa dan kelemahan kita. Sering kali kita merasa bahwa kesalahan kita terlalu besar untuk diampuni, atau masa lalu kita terlalu gelap untuk dipulihkan. Namun, Pentekosta mengingatkan kita bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada kasih Allah. Jika penyaliban Kristus saja dapat menjadi sumber keselamatan, maka hidup kita pun dengan segala kerapuhan dan kegagalannya dapat diubah menjadi berkat.
Yang diminta dari kita hanyalah keterbukaan hati untuk berani bertobat, percaya, dan membiarkan Roh Kudus bekerja. Sebab Allah yang sama terus berkarya hingga hari ini, dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. (bdk. Rm 8:28)
Tuhan memberkati.
Romo Roy Noeng, CSsR
Doa Ratu Surga
Menurut tradisi Kekristenan, ada tiga waktu penting dalam hidup kita, yakni pagi (06.00) awal membuka hari, siang (12.00) istirahat, dan sore/senja (18.00) untuk menutup hari/aktivitas. Waktu-waktu itu diisi dengan doa singkat yang lebih bernada doa Maria. Bagi kita yang berada di Selandia Baru ini, barangkali tidak lagi mendengarkan lonceng Gereja berdentang pada waktu-waktu itu untuk mengingatkan kita untuk berdoa. Tetapi kita tetap mengingat bahwa jam-jam itu adalah jam berharga bagi kita.
Emangnya, doa apa sih yang biasa didoakan pada saat jam-jam tadi? Ada dua, yakni pertama, Doa Angelus (Malaikat Tuhan) untuk mengenang misteri inkarnasi Kristus. Doa ini didaraskan pada masa-masa di luar Paskah. Kedua, doa Regina Caeli (Ratu Surga). Doa ini didaraskan pada masa Paskah yakni sejak Minggu Paskah hingga Minggu Pentakosta (ingat: sekarang masih Masa Paskah loh...).
Ratu Surga adalah gelar yang diberikan oleh umat Kristiani kepada Perawan Suci Maria, terutama oleh Gereja Katolik (dan Ortodoks). Gelar ini merupakan buah dari Konsili Efesus (431) di mana pada konsili itu Sang Perawan Maria dinyatakan sebagai Bunda Allah (Theotokos). Umat Katolik percaya bahwa Maria diangkat ke surga, jiwa dan badannya. Gereja sungguh percaya dan mengajarkannya dalam bentuk dogma bahwa Maria, Bunda Allah yang Tak Bernoda, Sang Perawan Abadi, diangkat ke surga dalam kemegahan – jiwa dan badannya, setelah menyelesaikan perjalanan kehidupan duniawinya. Penerimaan Maria pada kehendak ilahi merupakan alasan utama bahwa ia adalah Ratu Surga. Oleh karena penerimaannya yang rendah hati dan tanpa pamrih pada kehendak Tuhan, "Tuhan menempatkannya dalam posisi yang lebih tinggi dibandingkan semua makhluk lainnya, dan Kristus memahkotainya sebagai Ratu surga dan bumi".
Sekarang masih Masa Paskah, dan sebentar lagi kita memasuki Bulan Maria (Mei), mari kita mendoakan “Ratu Surga”, sambil terus menjaga kedekatan hati kita dengan bunda kita bersama, Bunda Maria.
Romo Daniel Sitanggang, OFMCap
Comments
Post a Comment
Silakan berikan komentar