Buletin KKIA Mei 2026

 Menjadi Pewarta Karunia Roh Kudus

Hari Raya Pentekosta yang kita rayakan hari ini lazim juga disebut sebagai hari kelahiran Gereja. Karena pada hari itulah Roh Kudus dicurahkan ke atas para rasul dan mengubah mereka yang takut menjadi pewarta Injil yang berani. Menariknya, Kisah Para Rasul menceritakan kepada kita bahwa banyak orang dari berbagai bangsa turut menyaksikan peristiwa itu. Mereka mendengar para rasul berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda, namun semuanya memahami pewartaan tentang “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11).

Peristiwa ini mengingatkan kita pada kisah Menara Babel (Kej. 11:1-9). Dalam kisah Babel, manusia yang dikuasai kesombongan akhirnya tercerai-berai karena bahasa mereka dikacaukan. Bahasa yang seharusnya menjadi sarana persatuan justru menjadi penyebab perpecahan. Namun pada Pentekosta terjadi kebalikannya. Roh Kudus tidak menghapus keberagaman bahasa, tetapi mempersatukannya dalam satu pemahaman tentang kasih karunia Allah.

Karena itu, Pentekosta dapat dilihat sebagai pemulihan dari Babel. Roh Kudus mempersatukan manusia bukan dengan menyeragamkan mereka, melainkan dengan menghadirkan kasih Allah yang dapat dimengerti oleh semua orang. Demikianlah Gereja lahir sebagai komunitas yang terbuka bagi segala bangsa, budaya, dan bahasa.

Pesan ini kiranya menjadi sangat relevan bagi hidup kita saat ini. Dunia dewasa ini sering dipenuhi perpecahan karena perbedaan pandangan, suku, bahasa, maupun kepentingan. Roh Kudus mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan perpecahan. Jika hati kita benar-benar dipenuhi Roh Allah, kita justru dipanggil untuk menjadi pembawa damai, membangun pengertian, dan menghadirkan persatuan di tengah keberagaman.

Mari kita mohon kepada Allah agar kita boleh menjadi membawa karunia-karunia Roh Kudus dalam hidup kita. Tuhan memberkati.

Romo Roy Noeng, CSsR

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (7 Juni 2026)

Tubuh dan Darah Kristus dikenal dalam bahasa Latin: Corpus et Sanguinis Christi. Perayaan ini merupakan pengenangan akan pendirian Ekaristi pada hari Kamis Putih sebelum Yesus mengalami sengsara-Nya di kayu salib. Penghayatan dan penghormatan kepada Tubuh dan Darah Kristus mengalami perkembangan dalam Gereja terutama sejak abad pertengahan. Perkembangannya ditandai dengan suburnya praktik penghormatan kepada Tubuh dan Darah Kristus, terutama devosi Ekaristi Mahakudus. Penghormatan semacam ini pertama kali dirayakan sebagai pesta lokal pada pesta St. Juliana dari Liege. Pada tahun 1264, perayaan ini dirayakan sebagai perayaan Gereja universal dalam liturgi gerejani. 

Baik bagi Gereja universal maupun bagi setiap orang beriman, Ekaristi yakni Tubuh dan Darah Kristus sendiri, merupakan pusat seluruh kehidupan Kristen. Dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa lewat Kristus, Putra Allah, dalam Roh Kudus. Selain itu, Ekaristi merupakan peringatan misteri penebusan sepanjang tahun yang dihadirkan untuk umat. Di dalam Ekaristi, Kristus menawarkan kesatuan, kebersamaan dan persekutuan dengan umat beriman. Dengan menyambut Tubuh dan Darah-Nya, umat beriman dimasukkan ke dalam kesatuan dan kebersamaan (communio) dengan seluruh hidup, perutusan dan nasib Yesus Kristus.

Memang Gereja merayakan Ekaristi setiap hari, namun tetap ditentukan satu hari khusus dan istimewa sebagai hari raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari khusus itu jatuh pada hari Minggu sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Gereja berharap supaya sejauh mungkin semua umat beriman ikut terlibat dan berpartisipasi aktif, penuh dan sadar dalam merayakan misteri agung ini. 

Perayaan Tubuh dan Darah Kristus adalah misteri iman yang besar dan sungguh kaya. Hal ini tampak dari keadaannya sebagai pusat dan puncak iman orang Kristen. “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman [...]” (Yoh 6:54-59). Umat berkumpul dalam kesatuan dan kebersamaan sebagai Tubuh Kristus dan merayakannya dalam kesatuan pula.

Merayakan Tubuh dan Darah Kristus merupakan acara “makan bersama” dengan Yesus Kristus di mana tujuannya bukan supaya kita kenyang, melainkan supaya kita semakin menyatu dengan Kristus yang menjadi puncak dan pusat iman kita.

Romo Daniel Sitanggang, OFMCap

 



Comments

Popular posts from this blog

Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-80 KKIA

Foto-Foto Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 KKIA

Foto-Foto Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 KKIA