Buletin KKIA Juni 2026

Memikul Salib dan Menemukan Kehidupan

    Dalam hidup sehari-hari, kita cenderung menghindari penderitaan dan memilih jalan yang paling mudah. Bahkan dalam hidup beriman, tidak jarang muncul pertanyaan: “Kalau saya mengikuti Kristus, mengapa hidup saya masih penuh kesulitan?”

    Melalui Injil hari ini, Yesus menjawab dengan jujur: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:38) Mengikuti Kristus berarti menempatkan Dia sebagai yang utama dalam hidup, bahkan ketika hal itu menuntut pengorbanan. Kesetiaan kepada Tuhan kadang membuat kita harus memilih kejujuran daripada keuntungan, kebenaran daripada kenyamanan, dan kasih daripada kepentingan diri sendiri.

    Namun salib bukanlah akhir. Dalam Suratnya kepada Gereja di Roma (Roma 6:3-4, 8-11), Santo Paulus mengingatkan bahwa melalui baptisan kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Artinya, setiap salib yang dipikul bersama Kristus selalu mengarah kepada kehidupan baru dan harapan.

    Kesetiaan kepada Tuhan tidak harus diwujudkan dalam hal-hal yang besar atau pun luar biasa. Perempuan Sunem dalam bacaan pertama (2 Raja-Raja 4:8-11, 13-16) justru menampilkannya melalui tindakan yang sederhana. Ketulusannya dalam menerima Nabi Elisa akhirnya mendatangkan berkat Allah. 

    Demikian pula Yesus menegaskan bahwa bahkan “secangkir air sejuk” yang diberikan demi nama-Nya tidak akan kehilangan upahnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa pelayanan kecil baik di Gereja maupun dalam keluarga memiliki nilai besar di hadapan Tuhan. 

    Semoga kita semakin berani menjadikan Kristus sebagai pusat hidup, setia memikul salib yang dipercayakan kepada kita, dan tekun melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar. Sebab di jalan salib itulah kita menemukan sukacita dan kehidupan sejati.

Romo Roy Noeng, CSsR


Litani para Kudus: Apa itu? 

    Dalam perayaan besar Gereja, kita sering menyebutkan para rasul dan sekian banyak nama orang kudus dalam doa kita. Pantaslah kita ingat bahwa semua doa ditujukan kepada Allah. Kita tidak berdoa kepada para kudus, tetapi kita meminta mereka memperkuat permohonan kita di hadapan Allah; para kudus mendoakan kita di hadapan Yesus Kristus.

    Litani Orang Kudus atau Litani Agung, (Latin: Litania Sanctorum) adalah sebuah doa kudus dalam Gereja Katolik Roma, Ritus Barat Gereja Ortodoks, Gereja Lutheran, dan sejumlah Gereja Anglikan. Doa ini merupakan doa kepada Allah Tritunggal, dan doa perantaraan kepada Santa Perawan Maria, para malaikat, semua martir dan orang kudus yang telah mendirikan kekristenan. Doa ini paling sering dinyanyikan pada saat malam Paskah pada awal Sakramen Inisiasi bagi mereka yang akan masuk ke dalam Gereja, dalam perayaan lain dari Sakramen Baptisan (Sakramen Inisiasi), dalam liturgi untuk tahbisan, dan perayaan besar Gereja. Adalah hal terlarang menyebut nama-nama tokoh yang belum dimasukkan ke dalam daftar tokoh yang telah dikanonisasi atau dibeatifikasi Gereja. 

    Gereja di sepanjang sejarahnya, mengatakan bahwa para kudus atau orang-orang yang berbahagia di surga, oleh iman mereka, telah mengikuti Yesus Kristus. Mereka membentuk suatu keluarga besar, yang disebut Gereja para kudus di surga, termasuk  yang tidak/belum dikanonisasi, di mana mungkin kelak kita menjadi bagian dari bilangan para kudus itu. Kita juga memiliki santo-santa yang menjadi idola kita karena keutamaan dan kebijaksanaan mereka. Kita memohonkan kesaksian hidup mereka menjadi teladan iman bagi kita. Karya iman yang telah mereka jalankan menjadi inspirasi iman dalam perjalanan hidup kita. 

Litani para kudus adalah doa yang paling indah dan paling sederhana. Melalui seruan yang panjang, kita memohon bantuan doa para kudus demi kebaikan dan kebahagiaan kita dalam hidup di dunia. Mari selalu memohonkan supaya mereka selalu mendoakan kita. 

Romo Daniel Sitanggang, OFMCap




Comments

Popular posts from this blog

Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-80 KKIA

Foto-Foto Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 KKIA

Foto-Foto Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 KKIA